Minggu, 26 Juni 2011

Ketika Salah Memaknai Cinta Posted by Farid Ma'ruf pada Agustus 18, 2008 Oleh: Titi Qamariah

Islam adalah dien yang sempurna, karena bersumber dari Sang Maha Sempurna yaitu Allah SWT. Manusia diciptakan oleh Allah beserta segenap potensinya, termasuk naluri berkasih sayang (gharizah nau’).
Seperti dalam sebuah lagu bahwa rasa cinta itu pasti ada pada makhluk yang bernyawa. Baik itu kepada sesama manusia, entah itu cinta kepada
orang tua, saudara, lawan jenis bahkan dengan dirinya sendiri. Intinya, cinta adalah naluri fitrah yang sudah ada sepaket dengan penciptaan manusia.
Oleh karena itu, Islam tidak pernah melarang untuk mencintai, cuma yang selalu jadi catatan adalah apa dan bagaimana aktivitas pemenuhan/penyaluran rasa cinta itu.
Ya, inilah poin dari pembahasan tentang memaknai cinta ini. Manusia sering egois dengan membuat tafsir dan memaknai sendiri sesuai dengan hawa nafsunya terhadap hal yang menyangkut dirinya. Akhirnya cinta pun dimaknai dengan sebebas-bebasnya, diagung-agungkan sebagai sesuatu yang mutlak dipenuhi.
Hal ini sejalan dengan hasil pemikiran Sigmund Freud, seorang psikolog asal Austria yang akhirnya mengubah makna cinta yang mulia menjadi semata urusan seksual, cinta yang harus disalurkan dengan sebebas-bebasnya agar manusia merasa bahagia.
Pandangan Freud inipun berpengaruh pada masyarakat dunia dan dengan disokong oleh media yang ikut mempropagandakan budaya hidup hedonis dan permissive ini.
Dalam Islam gharizah nau adalah fitrah manusia. Secara alamiah ada dalam dirinya dan terdorong untuk memenuhi/menyalurkannya. Dalam hal inilah Islam mengatur bagaimana aktivitas pemenuhan GN yang benar sesuai syariat. Hal itu tidak lain hanyalah melalui sebuah ikatan suci pernikahan dan hanya berlaku kepada pasangan lawan jenis, laki-laki dengan perempuan bukan sesama jenis.
Sebelum adanya ijab kabul, maka syariat membatasi pergaulan antara lawan jenis ini. Islam juga menetapkan bahwa arah hubungan laki-laki dan perempuan dalam pernikahan adalah untuk melanjutkan keturunan.
Seperti firman Allah SWT, “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah yang menciptakan kalian dari satu jiwa. Dari jiwa itu Allah menciptakan istrinya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak” (Q.S An-nisa: 1).
Lalu pertanyaannya, bagaimana kalau cinta dengan sesama jenis? Bisa-bisa umat ini akan lost generation seperti yang terjadi di negara barat yang melegalkan perkawinan sesama jenis.
Akhirnya, hanya satu kesimpulan bahwa fenomena buruk ini bukti semakin jauhnya Islam dengan umatnya. Saatnya kita tinggalkan sistem kapitalis sekuler yang rusak dan kufur ini.
Bangsa kita sudah penuh himpitan masalah dan berbagai bencana tak henti menimpa. Jangan sampai Allah menimpakan hukuman sebagaimana yang terjadi pada kaum Luth.
Solusi komprehensifnya adalah dengan kembali ke penerapan sistem Islam menjadi pemecah semua masalah dan yang pasti membawa maslahat dan ridho Allah SWT. (www,baitijannati.wordpress.com)
Penulis: Pembina Integrasi Studi Islam (ISI)
STIA Amuntai
Sumber : http://www.banjarmasinpost.co.id/content/view/44907/644/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar